Tidak Sekadar Canggih, AI Harus Memberikan Nilai Nyata bagi Rumah Sakit

Di tengah derasnya gelombang Kecerdasan Artifisial atau Artificial Intelligence, hampir setiap rumah sakit mulai berbicara tentang AI. Mulai dari AI untuk membantu dokter menulis rekam medis, chatbot pasien, analisis radiologi, hingga coding klaim.

Namun, Michael A. Pfeffer, MD, FACP (Chief Information Officer and Associate Dean for Stanford Health Care and Stanford University School of Medicine) dalam pidato pembukaan Smart Health Asia 2026 justru mengambil sudut pandang yang berbeda.

Pertanyaan terbesar bukan lagi “Bagaimana menggunakan AI?”, tetapi “Bagaimana memastikan AI benar-benar menghasilkan nilai (value) bagi rumah sakit?”

banyak organisasi berfokus kepada aspek teknologi, padahal keberhasilan AI ditentukan oleh keputusan strategis sebelum dan sesudah implementasi. Ada lima keputusan yang perlu dipertimbangkan oleh pimpinan rumah sakit saat mengadopsi AI. Kelima hal tersebut

1. Memilih framework AI yang tepat

2. Mengelola AI sebagai siklus berkelanjutan

3. Menentukan masalahnya terlebih dahulu

4. Build atau Buy?

5. Monitor untuk Membuktikan Nilai (Value) yang dihasilkan

Setelah mengimplementasikan AI, pesan yang juga tidak kalah penting adalah: Share What Works and What Doesn’t Work.

Sering kali rumah sakit percaya diri berbagi kisah sukses. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah menyampaikan jika implementasi belum berhasil. Kegagalan implementasi AI juga perlu dibagikan. Karena kemajuan AI di bidang kesehatan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi, bukan kompetisi.

Scroll to Top